2014 : Saatnya Era Politik 2.0
Tidak terasa 2 tahun lagi tahun 2014 yg berarti waktunya pesta demokrasi terbesar di negeri ini : Pemilu RI 1 & 2. Gaungnya bahkan sudah kita rasakan akhir-akhir ini seperti digadang-gadangnya Sri Mulyani sebagai capres melalui partai SRI, masuknya sang bos MNC Hary Tanoe untuk memperkuat kiprah Nasdem, isu Ani Yudhoyono sebagai pengganti SBY, dsb.
Yg menarik disimak saat pesta demokrasi itu tiba adalah bagaimana strategi marketing politik yg akan dilancarkan oleh setiap calon. Ada yg menerapkan teknik konvensional seperti mengadakan orasi di suatu tempat beserta hiburannya yg tidak akan jauh-jauh dari goyangan “erotis” penyanyi dangdut. Namun ada pula yg menerapkan terobosan baru melalui pendekatan gerilya dan bawah tanah, yaitu Web 2.0 Campaign. Contoh strategi social media paling anyar adalah di tahun 2008 saat Obama memenangkan pemilu dengan sangat fenomenal, seorang kulit hitam yg dapat menjadi presiden di negara adidaya yg dulunya terkenal dengan “rasisme hitam”. Saat itu Obama menjadikan teknologi Web 2.0 sebagai senjata utamanya seperti :
- Membangun website pribadi barackobama.com dan secara konsisten menyalurkan berbagai gagasannya di sana
- 45.000 follower di Twitter
- Memiliki lebih dari 1.5 juta teman di MySpace & Facebook
- Mengupload video berbagai orasinya di YouTube beserta kumpulan foto kegiatan di Flickr
- Intens menyapa voter potensial melalui Blackberry Messenger
See?! Era baru social media diyakini akan membawa perubahan signifikan dalam gaya berpolitik di Indonesia. Media komunikasi (internet) yg semakin horisontal membuat semua orang, khususnya kelas akar rumput dapat memiliki kesempatan yg sama dalam menyuarakan opini dan aspirasinya atas capres tertentu. 
Saya akan coba rangkumkan beberapa strategi Politik 2.0 yg saya kutip dari timeline di twitter saya sendiri @lewatmulut di hashtag #digitalbranding:
- Bangun tim khusus yg dedicated, biasa disebut dengan Social Media Helpdesk.
- Susun blueprint yg jelas dalam penggunaan berbagai fungsi dari tools social media agar tidak terjadi blunder.
- Website pribadi dijadikan sebagai Head Office, semua informasi harus bersumber dari sana agar mudah pengelolaannya.
- Facebook dapat dimanfaatkan untuk membangun komunitas yg kuat. Sering-seringlah berbagi konten dan diskusi dengan anggota grup FB.
- Twitter harus dijadikan sebagai penghembus berita sehingga terjadi Buzz Marketing. Jangan lupa untuk konsisten me-link ke website pribadi di setiap tweet.
- Jika perlu gunakan jasa para buzz-er yg punya kredibilitas & pengaruh tinggi sebagai jembatan dari penyampaian visi capres.
- Tim secara berkala memantau perkembangan berita di forum, seperti Kaskus dan blog-blog berpengaruh lainnya. Hal ini bertujuan agar tim dapat sesegera mungkin meng-counter berita negatif yg cenderung cepat berhembus & menyebar luas di internet.
- Satu tips penting : Jangan pernah berhenti untuk terus berdiskusi dengan para blogger, tweeps, facebook-ers, dsb. Karena saat itu akan terjadi perang visi & gagasan yg intens antar para capres di social media. Gagasan yg menarik dan akan memenangkan hati bukanlah gagasan yg sangat idealis & membumbung tinggi, namun gagasan yg membumi, konkrit & mampu dipahami oleh semua orang (dengan level pendidikan yg rendah sekalipun).
Menarik utk melihat sepak terjang capres & tim marketingnya pada pemilu 2014 nanti. Last word from me : Enjoy the New Style of Indonesia Politics 2.0!
Leave a comment
Support
Award
Strategi Terbaru
Blog
- Digital Marketing (7)
- Online Branding (6)
- Strategi Kreatif (14)
- Studi Kasus (12)
- Teknik Jualan (8)
- Teori Marketing (8)
Who visit us?










